About Paijem

Welcome to Paijem Story.

Paijem hanya seorang perempuan biasa yang ingin hidup lebih berarti.
Usianya belum mencapai 30 tahun di penghujung tahun 2019 ini.
Sebentar lagi akan menuju kesana mungkin.
Memiliki karir di salah satu perusahaan swasta di planet bumi.
Sesungguhnya tidak hobby membaca tapi kurang rendah hati malah mencoba untuk menulis blog.

Paijem tadinya adalah seseorang yang krisis kepercayaan diri. Hidup dengan mikirin semua perkataan orang.
Sampai akhirnya lelah dan tiba di satu titik dimana sudah memiliki superpower dalam mengabaikan omongan orang.
Sudah memiliki cara tersendiri untuk bahagia dan tidak mengizinkan orang lain sembarangan mengintervensi caranya untuk bahagia.

Paijem akhirnya sudah memiliki kepercayaan diri tapi sayangnya terlalu over.
Bertumbuh menjadi pribadi yang koleris sayangnya terlalu akut.
Karena bukannya menghindari badai, Paijem malah terbiasa menerjang badai tersebut. Sehingga kekuatannya jadi ngegas, kadang di tempat dan di waktu yang salah.
Namun meskipun Paijem lelah introspeksi, Paijem tidak pernah memutuskan untuk berhenti introspeksi.
Sekalipun tidak sempurna, kerap memperbaiki diri sendiri.
Introspeksi dalam hening. Mungkin bersikap seolah benar namun diam-diam menyadari ada yang harus diperbaiki dalam hidup. Dan biasanya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Paijem terbiasa hidup dengan mengatakan apa yang dirasakan dan dipikirkan.
Namun itu tidak selalu positif.
Ada hal yang sebenarnya tak perlu diungkapkan.
Ada hal yang jika diungkapkan, bukan malah memperbaiki keadaan malah semakin memperburuk.
Namun ada juga hal yang tak perlu dipendam.
Jangan hanya karena menjaga perasaan yang lain, perasaan di dalam tercabik-cabik dan itu terus terjadi.
Toh orang lain juga hanya manusia biasa yang mungkin tidak akan pernah tahu apa yang kita rasakan jika tidak kita ungkapkan.

Paijem menyukai warna merah dan pantai.
Tidak punya kesempatan manja.
Ayahandanya meninggal saat usianya belum sampai 8 tahun.
Ibundanya memiliki 6 anak. Terpaksa mandiri tanpa pilihan.
Tapi untungnya tidak separah yang lain. Saat lulus SD, memilih dan mendaftar sendiri ke sekolah. Bahkan membeli seragamnya sendiri ke pasar. Melihat temannya yang lain diantar wali. Tapi masih mending, di zamannya sudah banyak yang dilepas orangtuanya sendiri pada usia itu.
Kurang perhatian dan kasih sayang? Jelas. Ibundanya pun tidak memiliki pilihan lain selain bekerja keras menghidupi semua anaknya, perhatian masih dibagi untuk 6 anak. Tapi Paijem tidak memilih menjadi nakal. Mencoba untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggungjawab serta tidak merepotkan orang lain.

Paijem bukan orang yang pintar. Tidak pula memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Paijem hanya seorang yang tidak pernah berhenti belajar. Jadi tidak satupun dapat mengukur kemampuannya termasuk dirinya sendiri. Kalau hari ini Paijem belum bisa, besok kalau sudah belajar tidak ada yang tahu. Bisa saja Paijem sudah bisa.

Paijem juga tidak terbiasa mengatakan “tidak bisa” sebelum mencoba. Sedangkan jelas-jelas tidak bisa saja masih dicoba. Kadang berulang-ulang. Ada rasa dimana dirinya tidak bisa menerima dengan mudah jika ada hal yang tidak dapat dilakukannya. Ahh Paijem, sok idih banget anda.

Banyak tulisan nantinya yang dipost akan ditulis by Paijem. Tidak juga bisa dipastikan apakah artikel akan rutin per hari, per minggu, per bulan, per tahun, per windu, per dasawarsa, per abad ya terserah Paijem ajalah nanti.

Paijem oh Paijem.
Kapokmu kapan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *