Anies Baswedan, Gubernur Goblok?

Paijem sangat pro-Pemerintah. Ntah kenapa Indonesia saat ini seperti terpecah menjadi 3 kubu. Kubu Jokowi, Kubu Prabowo dan Kubu yang menyebut dirinya Netral. Nah, Paijem? Kubu Jokowi. Jelas. Instagram Paijem pun hanya follow Pak Jokowi dalam segi pemerintahan. Tapi sejak kejadian banjir besar di Jakarta akhir menjelang awal tahun 2020, Paijem juga follow IG Anies Baswedan.

Paijem banyak membaca berita di media sosial. Sampai HP yang dipegang saat tiduran di tempat tidur terjatuh ke wajahnya sendiri. Segitunya sampai baca berita sebelum tidur dan ketiduran. Ahh, apakah politik di Indonesia ini semembosankan itu sampai lagi enak baca bisa ketiduran? Entahlah.

Banjir di awal tahun kemaren memang luar biasa. Memakan korban dan kerugian materi yang luar biasa. Hanya materi saja? Tentu tidak. Harusnya awal tahun yang bisa have fun malah harus dimulai dengan begitu lelahnya. Bahkan gak cuma lelah buat sebagian orang lho. Itu sangat menyedihkan.

Awal-awal sih sempat menyorot ke Anies Baswedan. Karena pemimpin donk yang punya peran banyak disini. Inget Paijem bilangnya peran yang banyak ya bukan peran tunggal. Tapi memang seakan tak terlihat tindakan pencegahan banjir ini. Jakarta itu langganan banjir, tidak mungkin tidak ada yang tahu. Nah ini yang dijadikan bahan gorengan di kubu sebelah. Di dramatisir dan maaf kadang dibuat sangat berlebihan. Ahok cukup menunjukkan kinerjanya dalam hal banjir. Langsunglah publik membandingkan kerja yang kontras ini memang.

Pendukung-pendukung Pak Gubernur pun tak lelah untuk membela pemimpinnya. Yah walaupun pendukungnya kebanyakan bot atau sejenis buzzer. Mengatakan ini hanya banjir, kehendak Tuhan. What? Jadi ini salah Tuhan? Banyak orang yang bilang, hujan itu tidak bisa dicegah, tapi banjir bisa diantisipasi. Paijem setuju. Duh kok ketahuan ini Paijem kubu sebelah. Gak bisa pura-pura netral. Haha. Wait-wait.

Muncul postingan-postingan dimana zaman Ahok masih jadi gubernur hal apa yang dia lakukan untuk antisipasi banjir. Apakah pada saat itu tidak banjir? Tetap banjir, tapi dampaknya gak sehebat banjir yang di awal 2020. Lah diantisipasi sedemikian rupa saja masih banjir, apalagi tidak. Dan setelah banjir belum sampe selututpun bekerja keras bahkan sampe ada yang langsung surut gak sampe sehari.

Awalnya Paijem menyorot Anies Baswedan bukan hendak menyerang personalnya tetapi kinerjanya. Rakyat juga kesal setelah santer diberitakan bahwa gubernur ini memotong dana yang seharusnya digunakan untuk mencegah banjir. Dipotong 500 Milyar dan belum lagi di tahun yang sebelumnya.
Nah jejak digital memang kejam. Booming lagi perkataan Jakarta sudah tidak sesuai dengan Sunatullah yang sempat diucapkan Anies. Bahwa Jakarta telah salah mengambil keputusan. Dan apa yang dihadapi Jakarta saat ini? Salahnya disini dan sakitnya tuh disini.

Banyak wilayah Jakarta yang tidak pernah merasakan dampak banjir akhirnya merasakan banjirnya. Banyak juga rumah-rumah artis yang kena banjir jadi semakin virallah banjir ini.
Paijem harus mengakui ahhh kali ini pemerintah memang harus berbenah. Sungguh-sungguh harus berbenah. Eitss, apakah hanya pemerintahan saja yang harus berbenah? Nooo…
Rakyat juga harus menghilangkan gaya hidup buang sampah sembarangan itu. Pemerintah juga berbenah dengan menindak tegas warga bandel yang sembarangan. Nah, mengubah prilaku warga memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Selagi telapak tangannya belum terbalik ya diusahakan untuk pengelolaan sampahnya lebih dimaksimalkan.

Kok enak banget ini Paijem ngomong. Lha iya, Paijem bayar pajak. Buang sampah pada tempatnya. Bahkan bikin website ini pun bayar 10 apa 15% lupa. Yang penting bayar PPN. Pajak kendaraan, PBB, listrik tertib semua. NPWP dan pajak penghasilan ada semua. Nah setelah Paijem melakukan kewajiban sebagai warga negara ya Paijem ingin negara juga melakukan kewajibannya. Kan gitu.

Balik lagi ke kalimat pertama di post kali ini. Paijem sangat pro-Pemerintah. Ya, gak peduli siapapun yang menjabat Paijem merasa harus mendukung pemerintah. Mendukung disini bukan maksudnya kalau salah sudah lanjut saja kesalahannya. Di atas Paijem sudah mengungkapkan sebagian isi hati. Namun tidak secuilpun Paijem membenci Anies Baswedan. Manusia melakukan kesalahan dan tidak ada yang sempurna. Tak perlulah memojokkan beliau di media sosial. Walaupun sungguh hati mungkin gundah gulana dan memang gampang menyalahkan Anies untuk semuanya. Semoga diantara yang menyalahkan Anies tidak ada yang masih buang sampah seenak udelnya ya. Yang menghina pak Anies sedemikian rupa memang suci tak berdosa jadi ya udah gak papa.

Pak Anies juga terimalah kebencian warga saat ini. Karena banyak warga yang mengklaim dirinya tidak bodoh yang berpendapat bahwa jabatan itu didapatkan karena jual agama, jual ayat dan lain sebagainya. Kenapa Ridwan Kamil tidak dihujat padahal sama-sama mengalami banjir? Karena Paijem juga gak denger Ridwan Kamil ngeles dan ngelempar sana sini untuk semua banjir ini. Gak kebanyakan teori dan mendapatkan jawabannya dipercaya tidak menyingkirkan lawannya dengan ayat agama mungkin. Sebenarnya alangkah lebih baik jika ada ucapan maaf dan menyesal untuk ini semua. Karena maaf kadang tak perlu kita memiliki salah. Customer service, kadang tidak salahpun harus meminta maaf kepada konsumen. Sekalipun konsumennya yang tidak smart buyer juga customer service yang meminta maaf. Rakyat memang bukan customer namun tetap pejabat tugasnya melayani rakyat.

Akhir kata, rindu Indonesia yang damai. Indonesia pernah damai? Entahlah, tapi belakangan ini memang mencekam. Banyak kaum yang merasa paling benar, gampang menjatuhkan yang lainnya, suka mencari keuntungan sendiri dan merasa benar okelah, tapi apa perlu menganggap yang lain salah?
Bhinneka Tunggal Ika. Bahasa kita banyak, agama kita banyak, kebudayaan kita banyak, suku kita banyak. Tidak bisakah kita saling menerima perbedaan tersebut.

Akhir kata sekali lagi (kata? berapa kata?) Anies Baswedan, anda tidak goblok. Paijem pun tidak lebih pintar dari anda. Namun bisakah kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik?

Salam hangat dari Paijem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *