Hijabmu sudah jadi berkah belum???

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Apa kabar ukhti?
Langsung to the point yuk.

Sering gak sih denger komen begini :
“Semoga segera mendapat hidayah untuk berhijab ya”
“Kamu Muslimah kenapa tidak berhijab, kan Islam mengajarkan demikian”

atau
“Percuma berhijab, tapi kelakuan kayak setan”

Apa ini? Maksudnya gimana?

Jadi seorang perempuan yang belum menggunakan hijab belum mendapatkan hidayah sedangkan yang mengatakannya sudah mendapatkan hidayah atau malah sempurna hidayahnya? Kan kesannya demikian. Banyak sekali komen pedas dari sesama Muslim (mirisnya) kepada Najwa Shihab yang tidak menggunakan hijab padahal ayahandanya dikenal merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW. Komen nitijen yang menuding bahwa Najwa Shihab telah mempermalukan ayahnya, berdosa mengumbar aurat, bukan muslimah sejati, tidak pantas menjadi anak dari keturunan Nabi dan banyak opini gak berbobot lainnya.

Biar apa sih sebenernya komen seperti itu? Dan apalagi jika yang komen tersebut adalah seorang yang “mungkin” sudah mendapatkan hidayah untuk berhijab, kesannya anda seperti Tuhan yang berhak menghakimi manusia. Jangan salahkan orang lain jika akhirnya hidupmu cepat dihakimi. Orang-orang akan fokus pada kelakuanmu bukan hijabmu. Jangan malah melaknat orang lain yang menghakimimu karena kamu sendiri yang membuat dirimu diperlakukan seperti itu. Jika hijabmu jadinya dihakimi bukan malah menjadi teladan, jangan langsung merasa terzholimi. Bolehlah menyisakan waktu barang 10 detik saja introspeksi.

Tapi jujur, kendati demikian, tetaplah sedih jika seseorang yang sudah berhijab dihakimi kelakuannya. Mendengar kalimat “Percuma aja pakai jilbab, tapi blablabla”. Dan makin sedihnya lagi ketika kalimat itu didengar dari sesama penganut ajaran Islam. Jika non-Muslim yang mengatakannya hati ini masih maklum ya. Tapi jika saudara seiman pun ikut-ikutan menghakimi sejujurnya sedih juga.

Karena tidak semua Muslimah menggunakan hijab karena sudah mendapatkan hidayah.
Ada juga yang karena setahu dia hijab itu diajarkan dalam agama. Belum memahami sesungguhnya hidayah itu apa namun memilih untuk taat perintah Allah. Salah? Ya gak tau. Tapi hatinya sudah menaati Allah, yakin, Allah yang Maha Penyayang itu akan segera meluncurkan hidayahNya di waktu yang tepat.
Ada yang karena disuruh orang tua. Salah? Kurang tahu. Tapi dalam ajaran agamapun diajarkan untuk menghormati orangtua. Setidaknya ada hal baik yang dilakukannya ya kan. Dan pastinya menghormati orangtua pun perintah Allah.
Ada juga yang karena rambutnya acakadul dan malah lebih cantik kalo pake hijab? Itu menurut anda salah? Juga gak tau. Yang jelas, sekalipun seseorang menggunakan hijab bukan karena hidayah, bukan porsinya manusia untuk menghakimi. Anda manusia atau bukan silakan introspeksi, lalu jika merasa masih berhak menghakimi ya teruskanlah. Bukan begitu?

Manusia itu terdiri dari lahiriah dan batiniah. Jangan suka menyalahkan batiniah karena lahiriahnya belum sempurna begitupun sebaliknya. Seseorang menggunakan hijab karena sisi kebatinannya mempercayai demikian. Jadi jika sisi lahiriahnya belum sempurna, katakanlah masih ghibah, riya, riba, jangan dihakimi batiniahnya. Widih bahasanya belepotan para pembaca yang terhormat, hehehe. Tapi semoga paham.
Jadi misalnya kita sakit, katakanlah diare, apakah langsung karena kita berdosa dan tidak bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa langsung diare? Kan gak nyambungkan. Itulah makanya dikatakan tidak ada manusia yang sempurna, pasti ada celanya. Dan jika ada celanya bukan tugas kita menghakiminya.

Untuk kita yang sudah berhijab pun perlu membenarkan niat dan tata bahasa kita agar ketika kita mengingatkan seseorang untuk menutup auratnya, tidak terkesan menghakimi. Tidak terkesan seolah-olah kita merasa lebih baik dan lebih benar. Tidak perlu memojokkan atau ngotot dan keras kepala apalagi sampai adu argumen. Hindari hal tersebut. Ketika kita mengingatkan seseorang dan dia membantah tak perlu emosi dan malah berdebat. Kita manusia biasa memang tidak memiliki kuasa untuk mengubahkan hati seseorang. Jangan ngerasa sakti atau kesombongan terselubung yakni menganggap ucapan kita bisa mengubahkan seseorang. Jika teguran kita dibantah ya sudah, berarti belum waktunya orang tersebut mendapatkan hidayah atau cara kita menyampaikan mungkin ada yang perlu dikoreksi. Jangan sampai terjadi pertengkaran karena itu adalah hal yang sia-sia. Balik lagi motivasi awalnya kita mengingatkan untuk kebaikan buat dirinya. Tapi jika kita malah berdebat dan menimbulkan pertengkaran malah jadi tidak baik untuk semua pihak. Jadi mari bijak bersikap.

Jika mengatakan “Percuma berhijab, tapi xxx”
Hati-hati, anda sedang menjadi sombong sekali disitu.

Bagaimana jika seseorang menggunakan hijab karena menaati perintah Allah, anda bisa kena murka Allah. Allah belum tentu menganggap hijabnya percuma, anda siapa berani memutuskan itu percuma?
Apalagi anda belum berhijab, sudah belum menaati Allah malah menuding orang yang mencoba menaati perintah Allah. Jika ada orang yang menggunakan hijab namun kelakuannya tidak sesuai dengan penampilannya, jangan mencoba mengambil posisi Allah. Allah mungkin sedang meluncurkan hidayahNya yang luas kepada umatNya itu sedikit demi sedikit. Allah belum selesai dengan orang tersebut. Kenapa kita malah mengusik ibadahnya?
Yuk, mulai ubah mindset jelek hari ini juga yuk.

Tidak berhenti sampai disini, sudah berhijab pun kadang masih ada yang bilang yang benar itu begini begitu begini begitu dan mohon maaf lagi-lagi bahasanya gak ditata. Memojokkan siapapun yang dirasa tidak sependapat dengannya. Lagi-lagi ngerasa yang paling benar. Makanya jadi sangat milih-milih denger ceramah di Youtube. Terkontaminasi pengaruh negatif. Karena penceramah kan juga manusia yang mungkin khilaf, tapi khilafnya keterusan ya tidak layak dijadikan panutan juga.

Lalu ada artis yang tau-tau berjilbab, tau-tau lepas lagi. Nitijen langsung mendadak sibuk. Practice jadi hakim. Ngerasa yang paling ngerti agama. Ngerasa yang paling oke, kayak udah yess banget. Buat apa? Buat apa? Buat apa coba? Ikut komen negatif, berpartisipasi sukarela dalam melakukan dosa. Ayo dong, mulai dari diri kita sendiri ya.

Menutup aurat itu perintah Allah. Ya betul sekali. Tidak terbantahkan. Tapi perintah Allah apakah itu saja? Sudahkah dilakukan segala perintah Allah? Jika belum, apakah hak kita untuk menghakimi yang lainnya?
Anda mungkin saja berhijab namun masih suka ghibah. Yang ono mungkin saja tidak berhijab namun sudah tidak ghibah lagi. Dapatkah satu dengan yang lainnya merasa lebih benar? Jawabannya tidak, sebab keduanya belum menaati semua perintah Allah.
Mulai dari diri kita sendiri dulu yuk mindset positifnya. Sesungguhnya juga sadar sudah ikutan negatif menanggapi hal ini, tapi yok ayok mencoba jadi positif yuk.

Jika kamu belum berhijab :

  1. Terimalah dirimu terlebih dahulu dan yakin suatu saat kita bisa mendapat hidayah yang sesungguhnya. Kita berhijab bukan karena orang lain melainkan kecintaan kita kepada Allah.
  2. Upayakan jangan merasa tersinggung jika kita diingatkan untuk segera mendapatkan hidayah. Walaupun dari tata bahasanya menunjukkan penghakiman dan kesombongannya, biarlah menjadi urusannya dengan Allah saja, kita juga punya urusan sendiri dengan Allah.
  3. Jangan ikut menghakimi kelakuan orang yang sudah berhijab karena dia sedang menaati perintah Allah, nanti kita yang jadi kena murkaNya.

Jika kamu sudah berhijab :

  1. Tetap belajar terus menerus, apakah sudah benar motivasi ini karena cinta kita kepada Allah, bukan karena yang lainnya. Karena sesungguhnya jika itu sungguh hidayah dari Allah, orang lain yang melihat kehidupan kita akan turut merasakan hidayahNya pula.
  2. Upayakan jangan merasa tersinggung jika kita dihakimi telah menodai hijab. Tidak ada manusia yang sempurna dan kita pun memang berdosa. Setidaknya kita sedang mencoba menaati perintah Allah. Fokus saja memperbaiki akhlak, jadikan penghakiman itu cambuk untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
  3. Jangan ikut menghakimi kelakuan orang yang sudah berhijab, jangan merasa lebih baik dari yang lainnya ketika mengingatkan. Jangan merasa yang paling benar agar kita bisa menjadi teladan buat yang lainnya.

Masih banyak kekurangan dari tulisan ini. Juga terselubung sedikit amarah namun tulus ingin agar seberapa orang yang membaca dapat mengerti maksud baik dari tulisan ini.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *