KUKU JARI KAKI HAMPIR LEPAS, DICABUT ATAU DIBIARKAN SAJA?

Bisa dicabut. Bisa dibiarkan saja sampai lepas sendiri (sampai waktu yang tidak dapat ditentukan) atau banyak tutorial di Youtube bagaimana caranya melepas kuku yang hampir lepas. Simak cerita di bawah yang mana pilihannya adalah “operasi cabut kuku”.

Pada tanggal 10 Maret 2020 terjadi kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Gak sengaja kaki kiri Paijem menyenggol standar saat menggeser motor yang terparkir. Lalu kuku jari jempolnya renggang kukunya. Darah mengalir dan setengah kuku udah gak menyatu lagi dengan kulitnya. Kuku sudah hampir lepas. Kemudian disiram dengan air pake shower dan sedikit perih ketika air masuk ke dalam kuku dan darah terus keluar.

Nah karena kurangnya pengetahuan Paijem sebelum searching, Paijem hanya memplester kuku tersebut agar rapat dan memang darah sementara berhenti mengalir. Berharap jika disatukan seperti itu kuku akan menyatu kembali dengan kulit. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat polos. Jangan dipaksakan ya gaes. Karena memang tak dapat bersatu kembali. Yang sudah hampir lepas, lepaskanlah agar bisa muncul perlahan yang baru. Tak usah memaksakan menyatukan sesuatu yang sudah tidak bersatu lagi.

Kejadiannya sore hari yang mana faskes 1 sudah tutup juga. Jadi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan yang saat itu Paijem bisa lakukan pada diri sendiri hanya memplester kuku itu rapat dan berjalan hati-hati. Keesokan harinya Paijem pergi ke Puskesmas dan kerap menghalangi dokter yang kepo dengan memegang kuku itu. Dokter berusaha melihat kuku itu dengan mencoba melepaskannya sedikit dan perlahan. Untungnya dokter tersebut hati-hati saat saya mulai menolak dipegang dia berhenti menyakiti kuku yang perih itu.

Dokter memberikan pilihan karena memang itu keputusan pasien. Mau menunggu sampai kukunya itu lepas sendiri atau dicabut (ekstraksi kuku). Ini adalah pilihan yang cukup sulit saat itu sampai dokternya sedikit mendesak agar Paijem cepat memutuskan karena pasien lain sedang menunggu. Jadi pertimbangannya ini. Mau menunggu sampai lepas sendiri, artinya rasa perih dan was-was akan terus dirasakan sampai kuku itu lepas sendiri dan gak tau kapan. Atau mau operasi cabut kuku, rasa sakit seketika namun proses penyembuhannya bisa lebih cepat (ini menurutku).

Paijem memilih operasi cabut kuku dan menandatangani administrasi persetujuannya. Sambil berulang kali konfirmasi ke dokter, ini dibius kan Dok? Dokter jawab iya dibius tapi nanti agak kerasa sakit dikit. Jadi dokter ini gak sepenuhnya bohong karna emang gak boleh loh bohong sama pasien. Cuma bilang kerasa sakit dikit itu helooooooooo. Sakit banget. Tapi emang bentar, cuma sakitnya emang mantap banget. Saat obat bius disuntik pertama kali itu Paijem pikir separuh jiwa Paijem ikut pergi. Ternyata masih disuntik kedua kali. Berarti pergi lagi separuh lagi harusnya bablas donk. Berarti emang Paijem lebay dalam mendeskripsikan sakitnya. Tapi sakit banget kaki Paijem dipegang sama dokter dan perawat untuk mencegah terjadinya aksi tendangan Captain Tsubasa.

Paijem juga ingat ditanyakan dokter pernah suntik tetanus gak 5 tahun terakhir. Karena tidak pernah suntik tetanus dalam 5 tahun terakhir, kemungkinan 2x suntik itu suntik tetanus dan suntik bius. Atau entahlah. Sebelum disuntik kan Paijem udah tau tuh mau disuntik. Pikirannya udah melayang-layang, mana setelah disuntik separuh jiwanya pergi karena sakitnya. Jadi udah ga tau dah suntik apa tuh 2x.

Gambar milik www.paijem.com. Kuku baru saja dicabut di Puskesmas.

Setelah bius itu disuntikkan tanpa disadari kuku sudah dicabut. Ya emang terasa sih mereka menyentuh dan kaki berdenyut sedikit, tapi gak sangka kuku ternyata sudah dilepas. Dan kita masih ngerasa sakit emang, tapi hanya saat disuntik itu aja. Setelahnya hanya perih biasa yang masih bisa ditahan. Paijem sampai pegang besi jendela dan hampir menangis. Untung ingat umur. Saat membersihkan lukanya, perawat juga sedikit kurang lembut jadi masih nyut nyut tapi ya sudahlah. Rasa sakit bius tadi masih lebih hebat, jadi jari perawat menyentuh luka, Paijem masih bisa mengelus dada.

Setelah kuku diperban, beberapa jam kemudian efek obat biusnya hilang. Jadi kaki terasa berdenyut seperti genderang mau perang. Jalan sangat hati-hati. Dan siapapun yang berani menyentuh jempol Paijem itu artinya Perang Dunia ke 3 mungkin akan terpicu antara aku dan si penyentuh itu. Silahturahmi mungkin bisa putus dan kebencian bisa meliputi sanubari 7 hari 7 malam. Halah halah. Keesokan harinya denyut sudah normal dan sesekali nyeri tapi sudah mulai terbiasa dengan keadaan. Jangan lupa meminum obat nyeri dengan teratur, itu cukup membantu. Katanya sih konsumsi ikan gabus baik karena mengandung protein tinggi. Oh ya, luka benar-benar tidak boleh kena air.

Kuku diperban dan selama 3 hari belum dibuka. Setelah 3 hari, Paijem lalu kontrol ke Puskesmas. Pagi hari kontrolnya tanggal 14 Maret. Masih perih dan luka belum kering. Pas ditarik kain yang kayak jaring itu (plester luka dengan antibiotika) perih banget karena agak lengket ke luka padahal sudah disiram cairan infus banyak. Setelah diperban, ternyata perawat tidak memplester perban sehingga kain kasanya naik turun sampai hampir lepas. Sadarnya udah sore mau ke malam. Akhirnya memberanikan membuka perban tapi tidak membuka kasa steril yang langsung menyentuh luka. Hanya memplester kasa itu biar gak naik turun lalu diganti dengan perban yang baru. Setelah diganti perban, lukanya berdenyut kembali.

Karena masih perih dan berdenyut, Paijem memberanikan diri untuk mengganti perban sendiri keesokan harinya. Jadi tanggal 15 Maret. Luka sempat perih karena mungkin kain kasa yang naik turun karena longgar itu sempat menyentuh luka. Jadi Paijem membeli barang-barang berikut di apotek :

  1. Cairan NACl (Cairan infus). Harganya hanya Rp 10.000/500ml
  2. Daryant-Tulle (Plester luka yang mengandung antibiotika)
  3. Kasa Steril
  4. Plester
  5. Perban (Ukuran kecil, 10 gulung)

Nb. Katanya antiseptik atau Betadine lah ya harus dipake. Tapi Paijem gak pake.
Jangan lupa juga beli alat penusuk cairan infus. Karena botol infus punya karet ajaib yang buat cairan infus itu aman di dalam. Jadi butuh alat untuk mengeluarkan cairannya.
Waktu beli ini semua kurang lebih sekitar Rp 50.000,-an


Paijem membuka perban sampai akhirnya sampai di kain kasa yang bersentuhan langsung dengan luka. Paijem menarik dengan sangat pelan kain yang berbentuk jaring sekaligus kasa yang menempel di luka. Dengan sangat lemah lembut dan penuh kasih sayang menariknya. Jika perih sedikit saja, langsung menyiramkan cairan infus, menunggu sebentar lalu tarik sedikit lagi. Dan itu dilakukan dengan sepenuh hati dan kesabaran sehingga pada akhirnya lepassemua dari luka dan gak sesakit saat dilepas oleh perawat. Dengan kesabaran, buka perban luka sebesar kuku jempol kaki aja lama banget. Yah, demi masa depan yang lebih baik dan gilang gemilang.

Setelah kuku benar-benar terbuka, Paijem menyiram kembali cairan infus ke jari yang sudah tidak lagi berkuku itu. Kemudian mengeringkan dengan mengelap dengan kain kasa steril dengan penuh kasih sayang karena perih jika disentuh. Setelah kering, Paijem memotong Daryant-Tulle sesuai dengan ukuran luka dan menempelkannya pada bagian kuku yang luka. Bentuknya seperti jaring, berminyak, baca panduan pemakaiannya di kemasan ya. Setelah itu, Paijem segera menutupnya dengan kain kasa steril dan memplesternya agar tidak terlalu longgar dan bisa bergeser. Perih kalau kegesek cuyy. Kemudian menutupnya dengan perban. Masih berdenyut tapi seriously ini semua masih bisa ditahan.

Gambar milik www.paijem.com. Sudah ganti perban sendiri. Takut ama Dokter dan Perawat. Hehehe. Itu harusnya perban bekasnya harus segera dibuang. Karna kelewat bangga bisa ganti perban sendiri malah langsung ambil HP. Jangan ditiru.

Tanggal 16 Maret tanpa sengaja perban basah saat ke kemar mandi. Ughhhh Paijem ingin marah melampiaskan tapi itu hanyalah kesalahan Paijem sendiri, gimana dong. Akhirnya ganti perban sendiri lagi. Dan kali ini Paijem sudah agak mahir. Perih sih tapi udah gak ada apa-apanya dibanding yang sebelumnya. Tapi luka masih juga belum kering semua. Paijem denger temen-temen yang sudah lebih dulu mengalami, lukanya harusnya sudah kering. Jadi kan khawatir. Padahal pada saat ini seharusnya gak usah khawatir karena proses penyembuhan tiap orang itu beda-beda.
Setelah diperban kaki masih berdenyut kalau jalan, ya masih perihlah walaupun dikit.

Gambar milik www.paijem.com Luka cuma kering pinggirnya doang. Yang tengah kalau tersentuh agak maknyusss. Perih kalau tersentuh. padahal kalau siram cairan infus kan dilap pakai kassa steril. Jadi ya Maknyusssss.

Tanggal 17 Maret masih perih juga, jadi Paijem mengambil keputusan yang gak tau salah atau bener ya. Karena khawatir masih sedikit berdenyut dan belum kering, Paijem mencoba obat herbal tanpa sepengetahuan dokter. Nama obatnya Yunnan P***. Satu pil Paijem buka. Lalu Paijem buka perban, membersihkan lukanya dan menabur obat ini langsung ke luka yang masih belum kering. Saat kena luka, perih beberapa detik habis itu gak perih lagi. Lalu setelah ditaburi obat itu, memasang Daryant-Tulle, kasa steril, diplester dan diperban. 1 jam kemudian barulah wawwwwww, denyutnya tidak berhenti. Sakit minta ampun. Lebih dari genderang mau perang. Sakit berjam-jam. Mau jalan ke kamar mandi aja beratnya berasa kayak perjalanan Sun Go Kong mencari kitab suci ke Barat. Waw. Sakit minta ampun. Mana obat nyeri dari dokter dah habis, Paijem minum lagi obat herbalnya satu pil (tidak ditabur, tapi diminum) dan untung ada Paracetamol (yang mana bisa mengurangi nyeri juga) di rumah. Akhirnya bisa tidur. Bangun pagi masih sakit juga berdenyut sampai gak masuk kerja. 24 jam rasa sakitnya.

Setelah 24 jam rasa sakitnya sudah sangat berkurang, hampir hilang. Lalu Paijem buka perbannya, jadi pada tanggal 18 Maret saat itu. Tidak sakit sama sekali saat membuka perbannya. Tapi masih ada obat yang lengket dikulit terbuka dan Paijem gak sanggup membersihkan seutuhnya karena obat itu menempel di luka yang hampir kering, sakit kalau dipaksa dibersihkan bener-bener sisa obatnya. Jadi disiram dengan cairan infus lalu di lap sedikit demi sedikit tapi masih ada sisa obat menempel dan melakukan step menutup luka dengan perban seperti yang sudah dijelaskan di atas saat mengganti perban. Mengonsumsi 4 butir putih telur yang sudah direbus (kuningnya hibahkan aja ama abang, kakak, adek atau siapa kek, jangan ditelan semua juga, hehehe). Minum air putih dan tentunya berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Karena Paijem baca terlalu sering mengganti perban juga dapat memperlambat proses penyembuhan, Paijem berencana tidak membuka perban selama 2 hari. Sel-sel yang baru tumbuh ikut tertarik saat kain kasa ditarik dari luka. Gitu sih bacanya. Bener enggaknya ya ga tau. Cuma menurut Paijem masuk akal. Jadi perbannya Paijem diemin dulu dan tanggal 20 Maret baru Paijem buka lagi. Pada tanggal 20 Maret sudah diniatin mau ganti perban, Paijem malah kehujanan padahal sudah menutupi kaki dengan plastik. eh ternyata pas di jalan di genangan air kaki pas harus turun dua-dua dan masuklah air dalam plastik dan basahlah perbannya kayak rendaman kain yang mau dicuci. Maklum, Paijem mah kelasnya motoran bukan mobilan.

Langsung Paijem ganti dan ternyata setelah dibuka luka sudah seperti bernanah dan sedikit berbau gitu. Kayak bau daging. Hehehe daging oh daging. Tetap Paijem ganti perbannya dan ditutup lagi. Semua teman di kantor bilang kalau sudah nanah berarti sudah infeksi harus segera ke dokter untuk dibersihkan dan itu pasti sakit sekali rasanya. Ihhh kan serem. Paijem aja bela-belain ganti perban sendiri demi menghindari sentuhan maut pada luka kok. Paijem tidak demam, rasa nyeripun sudah berkurang, luka sudah hampir kering, tinggal dibagian tengah saja. Lah kok malah ada seperti nanah.
Apa karena obat herbal yang gak bersih, atau sudah dua kali basah. Pokoknya sedih aja dengan keadaan ini. Tapi Paijem mengurungkan diri untuk ke dokter karena takut kesakitan dan merawat lukanya sendiri aja.

Gambar milik www.paijem.com. Luka sudah lumayan kering.

Tanggal 21 Maret Paijem ganti lagi perbannya. Ternyata yg kemaren seperti nanah itu bukan nanah. Lah sudah kering lukanya walaupun masih lunyu-lunyu ditengah. Seneng poooolll, soalnya kan kalau infeksi berarti nanahnya itu dibersihkan ama dokter dan pasti rasanya mantap semantap pas suntik bius sebelum cabut kuku. Sempat khawatir banget ketika liat bentuknya seperti nanah kemaren. Dibilang berbau, ya berbau tapi kayak bau daging (wkwkwk) gitu bukan kayak bau busuk atau bau tidak sedap. Masih ada sedikit bau obat herbal juga sih. Tidak ada rasa perih atau sakit. Padahal kalau nanah itu, temen Paijem pernah, biar kecil aja itu nyeri and perih banget. Paijem juga gak demam. Tapi nanah juga banyak yang gak demam, namun udah infeksi. Jadi dilema bangetlah sebelum sosok seperti nanah itu kering. Intinya untunglah itu bukan nanah. Selama luka Paijem emang sangat protektif menghindari air walaupun sudah 2x basah ya. Karena emang gak sengaja. Budget mepet aja cuci rambutnya ke salon biar mantep.

Gambar milik www.paijem.com. Yeay, ternyata yang kemaren bukan nanah. Cuma mirip.

Tanggal 22 Maret luka sudah kering. Sama sekali tidak ada sakit tapi Paijem masih perban jempolnya. Parno. Kalo keinjek orang gimana. Jadi kalo diperbankan setidaknya orang bisa liat itu sedang sakit/ masa penyembuhan dan ya pokoknya lebih ngerasa nyamanlah jika diperban. Biar tetap bersih. Tapi ada yang bikin gundah gelisah galau merana nih. Obat herbal yang kemaren gak berani dibersihin, masih tetap ada di jari dan akhirnya ketutupan. Jadi masih ada kayak coklat-coklat gitu udah ketutupan kulit. Ga tau deh itu bakal diserap kulit eh diserap dalam darah atau bagaimana. Nanya ke dokter aplikasi dijawab bukan ranah dokter umum untuk mempelajari obat herbal. Mau ke puskesmas takut dimarahin ama dokternya, kok make obat gak sesuai anjuran dokter. Anyway, ga ada rasa sakit. Tanggal 23 Maret dibuka dan sudah kering dan jempol agak ditekan ke lantai juga udah gak nyeri. And sekarang udah tinggal nunggu kukunya tumbuh aja tanpa rasa sakit lagi (Insya Allah).

Gambar milik www.paijem.com Alhamdullilah. Sakitnya sudah berakhir. Terima kasih ya Allah.

Tanggal 24 Maret Paijem tanya lagi sama dokter online di aplikasi. Yeay dapat jawabannya. Jika sudah kering tidak masalah. Walaupun obat tidak terserap juga tidak masalah. Fiuhhh lega mendengarnya.

Jika pembaca mengalami hal yang sama dengan Paijem, Paijem sarankan jangan sembarangan menaburkan obat herbal ke dalam luka tanpa pengawasan dokter. Saat obat herbal ditaburkan, sekali lagi Paijem katakan, 1 jam kemudian rasanya mantap sangat. Berdenyut 24 jam tiada henti bayangin aja rasanya. Walaupun emang bener sangat cepat kering. Atau minta saran dokter boleh atau tidaknya jadi ada apa-apa gampang konsultasinya ama dokter.

Selama proses penyembuhan, makanlah makanan yang banyak mengandung protein. Yang mudah didapat dan enak dikantong juga seperti putih telur dan tempe. Sangat membantu untuk luka cepat kering.
Kalau luka belum kering-kering jangan panik, penyembuhan luka tiap orang beda-peda. Paijem nabur obat herbal karena denger yang punya pengalaman yang sama ada yang 3 hari udah kering, rata-rata seminggu udah kering. Jadi panik, seminggu lebih kok belum kering, ambil langkah sendiri deh. Jangan ya. Jangan semua saran orang didengerin juga. Lebih baik mengikuti anjuran dokter, atau kalau mau menjalankan saran orang lain, konfirmasi ke dokter yang menangani dulu.

Paijem ngerasain sakit yang sakit banget itu ya pas disuntik (pas dicabut kukunya gak sadar udah kecabut cuma nyut nyut aja karena gak liat kan, kirain cuma dipegang padahal dah dicabut) sama pas sok kepinteran naburin obat herbal ke luka langsung. Kemudian sakit yang sakit minta ampun banget itu pas gak sengaja kesandung pintu sama kesenggol kaki sendiri. Sampe nampar diri sendiri coba, biar jangan ngawur. Selain itu cuma kayak denyut biasa karena udah minum obat anti nyeri. Gak seserem yang Paijem baca. Sakit iya sakit. Tapi badai pasti berlalu pemirsahhhh. This too shall pass.

Akhir kata eh paragraf, Paijem tidak menyesal memilih operasi cabut kuku. Pakai BPJS, gretong juga hehehe. Sejujurnya khawatir jika nunggu lepas sendiri. Kalau perawatan sendirinya gak tepat, kemudian malah kotor atau infeksi, jadi tetanus gimana. Soalnya ngerawat-ngerawat gitu Paijem kurang paham. Kalau dibaca di media sosial emang serem kayaknya sakit banget ya operasi cabut kuku. Iya emang sakit banget, sampai detik ini aja Paijem masih inget sakitnya disuntik bius di jempol kaki itu rasanya kayak apa. Tapi ya seperti Paijem, 11 Maret cabut 21 Maret udah gak ada sakit sama sekali dan kering total. Ada yang lebih cepat loh jika pola makan dan perawatannya baik. Kalau gak telaten ngerawat sampai kuku lepas, udah mending kayak Paijem. Cabut aja. Udah tinggal perban, ganti, perban, ganti lagi. Minta ajarin ama dokter gimana gantinya. Well, terimakasih jempol kaki Paijem yang 11 hari sudah berjuang. I love you jempol, you get well soon. Ceilehhhh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *